Sabtu, 14 Januari 2012

sunan bungkul...

Hingar-bingar lakon lahirnya banyak kampung di Surabaya hingga akhir abad 19 menyisakan sebuah kampung legendaris, yaitu Desa Bungkul. Sejak 1920-an desa ini tergusur dan hanya menyisakan sepetak kebun karena ada makam tokoh penyebar Islam, Sunan Bungkul.

Bentuk Desa Bungkul masih ditemukan di peta Surabaya terbitan 1872. Bahkan dalam peta Surabaya 1900, desa ini tampak luas dan dipenuhi sawah di bagian barat. Perkampungannya berada di sisi timur Kalimas. Batas selatan desa adalah di persimpangan jalan Marmoyo sekarang, batas sebelah timur di Jl Adityawarman sekarang, dan sebelah utara dibatasi dengan kampung Dinoyo. Ada nama Desa Darmo di utara Desa Bungkul saat itu.

Siapa sosok Sunan yang dimakamkan di Bungkul itu? Nama Mbah Bungkul ditemukan di Babad Ngampeldenta terbitan 2 Oktober 1901 yang naskah aslinya terdapat di Yayasan Panti Budaya Jogjakarta. Selain itu, juga ada Babad Risakipun Majapahit Wiwit Jumenengipun Prabu Majapahit Wekasan Dumugi Demak Pungkasan yang disimpan di Perpustakaan Reksopustoko Surakarta.

Sulitnya menemukan sosok ini bahkan dibenarkan sejarahwan mendiang GH Von Faber pada bukunya Oud Soerabaia, terbitan 1931. Faber mencatat kesan Bungkul dalam bahasa Belanda yang kira-kira terjemahannya demikian: Orang-orang tua melarang menceritakan apa pun tentang Bungkul ini. Pelanggaran terhadap larangan itu pasti diganjar hukuman. Si pelanggar akan diancam oleh jin, diisap darahnya oleh kelelawar, lehernya dipelintir dan sebagainya, demikian pula ibu, istri, dan anak-anaknya akan mendapatkan celaka. Masih banyak ancaman mengerikan yang ditulis Von Faber.

Saat ini, penjelasan paling banyak bahwa sosok ini adalah keturunan Ki Gede atau Ki Ageng dari Majapahit. Kompleks makam ini eksotis. Di dalamnya masih tersisa suasana Kampung Bungkul di tengah kota yang sibuk. Ada gapura ala Majapahit, terdapat mushala lama, gazebo bersosoran rendah. Belasan makam lain berada di bawah rerimbunan pohon-pohon tua.

Tidak ditemukan kisah yang sahih. Yang bisa di lakukan hanyalah mengumpulkan kepingan-kepingan kisah tentang sosok ini dari beberapa catatan lama itu sekalipun itu juga masih bisa diperdebatkan.

Selain di Taman Bungkul, sejumlah makam pengikut Bungkul banyak tersebar di kawasan Darmo. Sebagian sudah tergusur, beberapa masih bertahan. Salah satunya di temukan 'tercecer' di depan Kantor Kecamatan Tegalsari Jl. Tanggulangan, sekitar 100 meter dari Jl. Raya Darmo atau 300 meter sebelah utara makam Mbah Bungkul. Namanya makam Mbah Kusir, diyakini kusirnya Mbah Bungkul.
***

Awalnya Mbah Bungkul bernama Ki Ageng Supa. Sewaktu masuk Islam, berganti menjadi Ki Ageng Mahmuddin. Ia diperkirakan hidup di masa Sunan Ampel pada 1400-1481. Supa mempunyai puteri Dewi Wardah.

Sahibul hikayat, Supa ingin menikahkan puterinya. Namun ia belum mendapatkan sosok yang diharapkan. Lalu Supa mengambil delima dari kebunnya dan bernazar, siapa pun lelaki yang mendapatkan buah ini, akan saya jodohkan dengan anakku, nazarnya.

Delima itu dihanyutkan ke Sungai Kalimas yang mengalir ke utara. Alur air sungai ini bercabang di Ngemplak menjadi dua. Di percabangan kiri menuju Ujung dan ke kanan menjadi kali Pegirikan. Tampaknya delima itu `berenang` ke kanan. Karena suatu pagi santri Sunan Ampel yang mandi di Pegirikan Desa Ngampeldenta, menemukan delima itu.

Sang santri pun menyerahkannya ke Sunan Ampel. Oleh Sunan Ampel delima itu disimpan. Besoknya, Supa menelusuri bantaran Kalimas. Sesampainya di pinggiran, ia melihat banyak santri mandi di sungai. Supa, yakin disinilah delima itu diselamatkan oleh salah satu di antaranya. Apakah ada yang menemukan delima, tanya Supa setelah bertemu Sunan Ampel. Raden Paku, murid Sunan Ampel dipanggil dan mengaku. Singkat cerita Raden Paku dinikahkan dengan anak Supa.

1 komentar:

  1. Kisah yang menarik. Saya pernah baca, Ki Ageng Mahmudin dulunya seorang pejabat kerajaan Majapahit, setingkat Tumenggung. Beliau diminta oleh Raja Majapahit, Brawijaya, agar menemani putranya - putra mahkota - yang tidak ingin menggantikannya sebagai raja karena lebih tertarik belajar agama, dan ingin berguru ke Sunan Bejagung, di Tuban, Putra Mahkota dan Tumenggung belajar agama / menjadi santrinya Sunan Bejagung - Syech Abdullah Ashari - yang tidak lain adalah adik dari Syech Maulana Asmorokondhi, ayah Sunan Ampel dan kakek dari Sunan Bonang dan Sunan Drajat, Di kemudian hari putra mahkota Majapahit tersebut diambil menantu oleh Sunan Bejagung, makamnya ada di desa Bejagung Tuban dan lebih dikenal makam Sunan Bejagung Kidul ( Kidul = Selatan ). Syech Abdullah Ashari atau Sunan Bejagung makamnya dikenal makam Sunan Bejagung Lor ( Lor = Utara ). Menurut kisah, beliau usianya mencapai sekitar 300 tahun, muridnya banyak, ada juga murid beliau yang dakwah di daerah Pati Jawa Tengah, saya agak lupa namanya tapi dua kali ziarah ke sana, letak makam di dalam mesjid dan mesjid itu menjadi tempat para santri yang belajar menghafal Al-Quran. Sang Tumenggung atau Ki Ageng Mahmudin selesai dari Tuban kembali ke Majapahit, di daerah Bungkul, dan lebih dikenal sebagai Sunan Bungkul, Raden Paku, murid Sunan Ampel, di kemudian hari dikenal sebagai Sunan Giri, makamnya ada di daerah Giri / Kebomas, Gresik.

    BalasHapus